Kamis, 03 Desember 2015

Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Sesuai Tumbuh Kembang

A.    Anatomi Dan Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria)
Anatomi Dan Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria)
Anatomi Dan Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria)

Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria
1.      Ginjal : Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen. Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis). Fungsi Ginjal adalah mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi, mengekskresikan zat-zat yang jumlahnya berlebihan seperti obat-obatan, mengatur tekanan drah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam dan basa
2.      Ureter : Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari dinding luar jaringan ikat, lapisan tengah otot polos, lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.
3.      Vesikula Urinaria ( Kantung Kemih ) : Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius. Bagian vesika urinaria terdiri dari fundus, korpus, verteks, dinding kandung kemih.
4.      Uretra : Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki- laki uretra berjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.Uretra pada laki – laki terdiri dari uretra prostaria, yretra membranos, uretra kavernosa.

B.     Anatomi dan Fisiologi Kulit :
Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan merupakan proteksi terhadap organ-organ yang terdapat dibawahnya dan membangun sebuah barrier yang memisahkan organ-organ internal dengan lingkungan luar dan turut berpartisipasi dalam banyak fungsi tubuh yang vital.
Luas kulit orang dewasa 1,5 -2 m2 dengan berat kira-kira 15 % dari berat badan manusia •Tebal bervariasi antara ½ - 3 mm. •Kulit sangat kompleks, elastis dan sensitif bervariasi pada keadaan iklim, umur, sex, ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh
Kulit dapat bergerak dan meregang tergantung pada :
·      Tebal kulit
·      Jumlah lipatan kulit
·      Elastisitas kulit
·      Perlekatan kulit dengan jaringan dibawahnya
·      Umur individu.

Lapisan Kulit
·      Epidermis : teridiri dari 5 lapisan yaitu stratum corneum, stratum lucidum, stratum garanulosum, stratum basale, dan stratum spinosum/spongiosum.
·      Dermis : Dermis membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit. Lapisan ini tersusun dari dua lapisan yaitu
Lapisan papillaris, dan lapisan retikularis.
·      Jaringan subcutan : merupakan lapisan kulit yang paling dalam. Lapisan ini terutama berupa jaringan adiposa yang memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang. Jaringan subcutan dan jumlah lemak yang tertimbun merupakan faktor penting dalam pengaturan suhu tubuh.
Fungsi Kulit
·      Perlindungan (proteksi)
·      Sensibilitas/fungsi sensori
·      Keseimbangan air
·      Pengaturan suhu (thermoregulator)

C.     Proses Eliminasi Sisa Metabolisme :
Eliminasi adalah proses pembuangan sisia metabolisme tubuh baik berupa urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).
Organ yang berperan dalam proses pembentukan urine :
1.      Ginjal : Ginjal berperan sebagi pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh
2.      Kandung Kemih : Merupakan sebuah kantung yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine).
3.      Uretra : Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar.
4.      Ureter : adalah suatu saluran muskuler berbentuk silinder yang menghantarkan urin dari ginjal menuju kandung kemih.

Proses pembentukan Urine :
GLOMEROLUS : Berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai Bowman untuk menampung hasil filtrasi dari glomerolus. Urine yang berasal dari darah dibawa oleh arteri renalis masuk ke dalam ginjal. Langkah pertama proses pembentukan urine adalah ultrafiltrasi darah/plasma dalam kapiler glomerolus berupa air dan kristaloid, selanjutnya didalam tubuli ginjal disempurnakan dengan proses reabsorsi zat-zat yang esensial dari cairan filtrasi untuk dikembalikan ke dalam darah, selanjutnya proses sekresi dikeluarkan melalui urine.

Langkah-langkah pembentukan Urine : Pembentukan urine dimulai dengan filtrasi sejumlah besat cairan yang bebas protein dari kapiler glomerolus ke kapsula bowman. Kebanykan zat dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein sehingga filtrate glomerolus dalam kapsula bowman hamper sama dengan dalam plasma. Cairan diubah oleh reabsorsi air dan zat terlarut spesifik kembali ke dalam darah atau zat lain dari kapiler peritubulus ke dalam tubulus.






Karakteristik Urine :
1.      Komposisi : terdiri atas 95% air yang mengandung zat terlarut sebagai berikut :
Zat buangan nitrogen: meliputi urea dari protein,asam urat dari katabolisme asam nukleat,dan kreatinin dari proses penyaringan kreatinin fosfat dalam jaringan otot.
2.        Asam hipurat (asam Kristal): produk sampingan pencernaan sayuran dan buah-buahan.
3.      Badan keton (atom karbon) : dihasilkan dalam metabolisme lemak adalah konstituen(unsure pendukung) normal dalam jumlah kecil.
4.      Warna: kuning pucat,kuning pekat jika kental.Urine segar biasanya jernih dan menjadi keruh jika didiamkan.
5.      Bau urine memiliki bau yang khas,berbau amoniak jika didiamkan,bervariasi sesuai dengan makanan yang dimakan.Pada diabetes yang tidak terkontrol,aseton akan menghasilkan bau manis pada urine.
6.      Asiditas (keadaan asam) atau alkalinitas (keadaan alkali):pH urine bervariasi antara 4,8-7,5 dan biasanya 6,0 tergantung pada diet.Makanan proteintinggi akan meningkatkan asiditas,sedangkan diet sayuran akan meningkatkan alkalinitas.
7.      Berat jenis urine: Berkisar antara 1,001-1,035 tergantung pada konsentrasi urine.

D.    Proses Eliminasi sisa Pencernaan :
Pengertian Eliminasi :
Menurut kamus bahasa Indonesia, eliminasi adalah pengeluaran, penghilangan,penyingkiran, penyisihan.Dalam bidang kesehatan, Eliminasi adalah proses pembuangansisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses).Eliminasi pada manusiadigolongkan menjadi 2 macam, yaitu:
1.      Defekasi : Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidupuntuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasaldari sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).
2.      Miksi : adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Miksi ini sering disebut buang air kecil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasia.
1.      UMUR
2.      DIET
3.      CAIRAN
4.      TONUS OTOT
5.      FAKTOR PSIKOLOGI
6.      GAYA HIDUP
7.      OBAT-OBATAN 

E.     Hormon-hormon yang Terkait Eliminasi :
1.      Hormon anti diuretic ( ADH ) : dibentuk dalam nucleus supraotik dan mengandung asam amino.
2.      Mineralocorticoids : hormon yang mengatur keseimbangan elektrolit dan keseimbangan iar dalam tubuh.
3.      Aldosteron
4.      Esterogen

F.      Tanda dan Gejala gangguan eliminasi sisa Metabolisme dan Pencernaan :
1.      Gangguan/Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine
a.       Retensi urine
Tanda klinis retensi:
·         ketidaknyamanan daerah pubis
·         distensi vesika urinaria
·         ketidak sanggupan untuk berkemih
·         sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine. ( 25-50 ml)
·         ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya
·         meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
·         adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
b.      Inkontinesia Urine
c.       Enuresis
            Faktor penyebab:
·         Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari normal
·         Vesika urinaria peka ransang, dan seterusnya tidak dapat menampung urine dalam jumlah besar
·         Suasana emosional yang tidak menyenangkan di rumah
·         Infeksi saluran kemih, perubahan fisik, atau neorologis sistem perkemihan
·         Makanan yang banyak mengandung garam dan mineral
·         Anak yang takut jalan gelap untuk ke kamar mandi.
d.      Perubahan Pola Eliminasi Urine
Perubahan pola eliminasi urin terdiri atas:
·         Frekuensi
·         Urgensi
·         Disuria
·         Poliuria
·         urinaria supresi.
2.      Gangguan/ Masalah Eliminasi Alvi
a.       Konstipasi
Tanda klinis:
·         adanya feses yang keras
·         defekasi kurang dari 3 kali seminggu
·         menurunnya bising usus
b.      diare
Tanda klinis:
·         adanya pengeluaran feses cair
·         frekuensi lebih dari 3 kali sehari
·         nyeri atau kram abdomen
·         bising usus meningkat
c.       inkontinensia usus
Tanda klinis:
·         pengeluaran feses yang tidak di kehendaki
d.      kembung
e.       Hemorroid
f.       fecal impaction

G.    Proses Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi :
1.      Pengkajian Keperawatan :
·      Kebiasaan berkemih.
·      Pola berkemih
·      Volume urine
2.      Diagnosa Keperawatan
Diagosa keperawata yang terjadi pada masalah kebutuhan eliminasi urine adalah sebagai berikut :
·      Perubahan pola eliminasi urine b/d Ketidakmampuan salura kemih akibat anomali saluran urinaria.
·      Inkontinensia fungsional b/d penurunan isyarat kandung kemih dan kerusakan kemampuan untuk mengenal isyarat akibat cedera atau kerusakan Kemih
·      Inkontinensia refleks b/d Gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan arkus refleks akibat cedera pada m. Spinalis
·      Inkontinensia stress b/d Tingginya tek. Intraabdimibal dan lemahnya otor peviks akibat kehamilan Penurunan tonus otot
·      retesi urine b/d adanya hambatan pada sfingter akibat pebyakit striktur, BHP.
·      resiko perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d gangguan drainase ureterostomi.

3.      Perencanaan Keperawatan
Tujuan :
·      memahami arti eliminasi urine
·      membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh
·      mencegah infeksi
·      mempertahankan integritas kulit
·      memberikan rasa nyaman
·      mengembalikan fungsi kandung kemih
·      memberikan asupan secara tepat
·      mencegah kerusakan kulit
·      memulihkan self esteem atau mencegah tekanan emosional

4.      Rencanakan Tindakan :
·      monitor/obervasi perubahan faktor, tanda dan gejala terhadap masalah perubahan eliminasi urine, retensi dan urgensia
·      kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah
·      monitor terus perubahan retensi urine

·      lakukan kateterisasi urine



Tidak ada komentar:

Posting Komentar