
A. Pengertian
Sistem Pencernaan :
Sistem pencernaan atau
sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam
manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi
dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan
terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus,
usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang
terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
B. Anatomi dan Fisiologi Sistem
Pencernaan :
1. Mulut / Oris :
Mulut adalah suatu rongga terbuka
tempat masuknya makanan dan air. Mulut merupakan bagian awal dari sistem
pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Skema melintang mulut, hidung, faring
dan laring. Didalam rongga mulut terdapat :
a. Geligi
b. Lidah
c. Kelenjar ludah
2. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan
rongga mulut dengan kerongkongan (osofagus), di dalam lengkung faring terdapat
tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit
dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.
Ke atas bagian depan berhubungan
dengan rongga hidung dengan perantaraan lubang bernama koana. Keadaan tekak
berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus
fausium.
Bagian superior disebut
nasofaring, Pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang
gendang telinga. Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas ke depan
sampai di akar lidah bagian inferior.
3. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan
tekak dengan lambung, panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk
kardiak dibawah lambung. Lapisan dinding dari dalam ke luar, lapisan selaput
lendir (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan
oto memanjang longitudinal.
Bagan posisi esofagus pada manusia,
dilihat dari belakang. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang
punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen
menyambung dengan lambung. Esofagus dibagi mejadi tiga bagian;
a. Bagian superior (sebagian besar
adalah otot rangka)
b. Bagian tengah (campuran otot rangka
dan otot halus)
c. Bagaian inferior (terutama terdiri
dari otot halus)
4. Gaster / Lambung
Merupakan bagian dari saluran yang
dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri
dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium
pilorik, terletak dibawah diapragma didepan pankreas dan limpa, menempel
disebelah kiri fundus uteri. Bagian lambung terdiri dari :
a. Fundus ventrikuli, bagian yang
menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi
gas.
b. Korpus venrtikuli, setinggi osteum
kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor.
c. Antrum pilorus, bagian lambung
membentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pilorus.
d. Kurvantura minor, terdapat sebelah
kanan lambung terbentang dari ostium kardiak sampai ke pilorus.
e. Kurvantura mayor, lebih panjang dari
kurvantura minorterbentang dari sisi kiri osteum kardiakum melalui fundus ventrikuli
menuju ke kanan sampai ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lienalis
terbentang dari bagian atas kurvantura mayor sampai ke limpa.
f. Osteum kardiakum, meruapakan tempat
dimana esofagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium
pilorik.
5. Pankreas
Sekumpulan kelenjar yang strukturnya
sangat mirip dengan kelenjar ludah panjangnya kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai
dari duodenum samapai ke limpa dan beratnya rata-rata 60-90 gr. Terbentang pada
vertebralumbalis I dan II di belakang lambung.
6. Kantung Empedu
Sebuah kantong berbentuk terang dan
merupakan membran berotot, letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaan
bawah hati sampai pinggir depannya, panjangnya 812 cm berisi 60 cm³. Kantung
empedu (berwarna hijau) dalam sistem pencernaan manusia.
7. Hati
Merupakan kelenjar terbesar di dalam
tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya dibawah difragma. Berdasarkan
fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat sekresi. Hal ini dikarenakan hati
membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun
dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari
asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses
detoksifikasi.
8. Usus Halus / Intestinum Minor
Usus halus atau usus kecil adalah
bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar.
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus
kosong (jejenum), usus penyerapan (illeum). Pada usus dua belas jari terdapat
dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.
9. Usus Besar / Intestinum Mayor
Usus besar atau kolon dalam anatomi
adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi usus besar adalah menyerap air dari
makanan, tempat feses, dan tempat tinggal bakteri koli. Bagian-bagian usus
besar atau kolon :
a. Kolon asendens. Panjangnya 13 cm,
terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah
hati. Di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura
hepatika.
b. Kolon transversum. Panjangnya ± 38
cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah
abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat
fleksura lienalis.
c. Kolon desendens. Panjangnya ± 25 cm,
terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura
lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
d. Kolon sigmoid. Merupakan lanjutan
dari kolon desendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri
bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.
e. Rektum. Terletak di bawah kolon
sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga
pelvis di depan os sakrum dan os koksigis.
10. Usus Buntu
Usus buntu dalam bahasa latin
disebut appendiks vermiformis. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ
tambahan yang tidak memiliki fungsi, tetati saat ini diketahui bahwa fungsi
apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam
sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar
limfoid.
11. Umbai Cacing
Umbai cacing adalah organ tambahan
pada usus buntu. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam
orang dewasa, umbai cacing berukuran 10 cm tetapi bisa bervariasi 2 sampai 20
cm.walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi umbai cacing bisa berbeda-beda
bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di
peritoneum.
12. Rektum
Rektum dalam bahasa latin regere
(meluruskan , mengatur). Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di
dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk
melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan
dikembalikan ke usus besar, dimana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika
defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses
akan terjadi.
13. Anus
Anus adalah bagian dari saluran
pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar (udara luar). Terletak
di dasar pelvis bagian posterior dari peritoneum. Dindingnya diperkuat oleh 3
otot sfingter yaitu:
a. Sfingter ani internus (sebelah
atas), bekerja tidak menurut kehendak.
b. Sfingter levator ani, bekerja juga
tidak menurut kehendak.
c. Sfingter ani eksternus (sebelah
bawah), bekerja sesuai kehendak.
C.
PROSES PEMENUHAN NUTRISI SEL TUBUH
:
1. Nutrisi yang Dibutuhkan oleh Sel Tubuh :
1. Nutrisi yang Dibutuhkan oleh Sel Tubuh :
Untuk pertumbuhan,
perkembangan dan aktifitas sel diperlukan nutrisi yang cukup sehingga sel tubuh
dapat tumbuh dan berkembang serta dapat menjalankan fungsinya. Nutrisi yang
dibutuhkan oleh sel-sel tubuh secara garis besar meliputi: karbohidrat, lemak,
protein, vitamin, mineral dan air.
a. Karbohidrat
: Semua jenis karbohidrat terdiri atas unsur-unsur
karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Karbohidrat merupakan sumber energi
utama bagi manusia dan hewan. Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula
sederhana yang mudah larut dalam air mudah diangkut ke seluruh sel-sel guna
penyediaan energi. Nilai energi karbohidrat adalah 4kkal per gram. Berdasarkan
gugus penyusun gulanya dapat dibedakan menjadi monosakarida, disakarida, dan
polisakarida. Fungsi karbohidrat adalah: Sebagai sumber energi utama, Sebagai
bahan pembentuk senyawa kimia lain, misalnya asam lemak sebagai penyusun lemak
dan asam amino sebagai penyusun protein, Sebagai komponen penyusun gen dalam
inti sel yang sangat penting dalam pewarisan sifat, Sebagai senyawa yang
membantu proses berlangsungnya BAB.
b.
Lemak : Lemak merupakan senyawa
organik majemuk, terdiri dari unsur karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O) dan
terkadang tersusun oleh fosforus (P) dan nitrogen (N). Lemak diserap oleh
tubuh dalam bentuk gliserol dan asam lemak. Fungsi lemak bagi tubuh adalah: Sebagai
pelindung tubuh dari pengaruh suhu rendah,
Sebagai pelarut vitamin A, D, E, K, Sebagai penghasil energi tertinggi,
karena setiap gram lemak menghasilkan 9,3 kkal, Sebagai salah satu bahan
penyusun membran sel, Sebagai salah satu bahan penyusun hormon dan vitamin
(khusus untuk sterol), Sebagai salah satu bahan penyusun garam empedu, asam
kholat (di dalam hati), dan hormon seks (khusus untuk kolesterol).
c. Protein : Protein adalah suatu senyawa organik yang tersusun oleh
unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan terkadang juga mengandung unsur
fosfor dan belerang. Komponen dasar dari senyawa protein adalah asam amino yang
dibedakan menjadi tiga golongan (menurut Dr. Rose) yaitu: asam amino
esensial, semiesensial, dan non esensial. Fungsi protein bagi tubu adalah:
1.
Sebagai zat pembangun tubuh, menyusun sel-sel
baru untuk pertumbuhan dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.
2.
Sebagi bahan baku enzim, antibodi dan hormon.
3.
Menjaga kestabilan tekanan osmotik cairan di
dalam rongga tubuh.
4.
Sebagai penghasil energi apabila penghasil
energi utama (karbohidrat dan lemak) tidak mencukupi.
d. Vitamin : Vitamin dapat dikelompokkan menjadi vitamin yang larut dalam air
(vitamin B dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K).
Fungsi vitamin bagi tubuh adalah:
1.
Memperlancar metabolisme tubuh.
2.
Sebagai biokatalisator reaksi dalam tubuh.
e. Mineral : Garam mineral yang dibutuhkan oleh tubuh (baik terpisah maupun
secara golongan antar unsur) adalah:
1.
Zat kapur (Ca), berfungsi membantu proses
penggumpalan darah, mempengaruhi penerimaan rangsang pada syaraf, bersama
fosfor membentuk matriks tulang.
2.
Fosfor, berfungsi dalam pembelahan inti sel dan
memindahkan sifat-sifat keturunan, mempengaruhi semua proses perombakan dan
pembentukan zat.
3.
Zat besi, berfungsi sebagai komponen dalam
hemoglobin untuk mengikat oksigen dalam eritrosit.
4.
Flour, berfungsi menguatkan gigi.
5.
Kalium, berfungsi sebagai komponen anorganik
yang penting di dalam cairan intraseluler, komponen penting dalam transmisi
impuls syaraf dan kontraksi otot.
6.
Natrium dan chlor berfungsi membantu
iritabilitas dari sel-sel otot, natrium sebagai buffer.
f. Air : Air tergolong sebagai zat makanan karena air selalu diperlukan
sebagai bahan pelarut dalam metabolisme tubuh. Air tidak menghasilkan energi.
Air yang dibutuhkan oleh tubuh tergantung berat badan, jenis kelamin,
aktivitas, dan suhu lingkungan. Di dalam jaringan tubuh, air digunakan untuk:
1.
Melarutkan senyawa lain.
2.
Mengangkut zat dari sel ke sel atau dari
jaringan ke jaringan lainnya.
3.
Menjaga stabilitas suhu tubuh.
D. Proses Pengolahan Nutrisi di Dalam Tubuh
Zat makanan atau nutrisi yang kita makan akan
diproses oleh sistem pencernaan makanan yang terdiri atas rongga oral, faring,
esofagus, lambung, usus halus, pankreas, hati dan kandung empedu, usus besar,
rectum, dan anus.
Ketika makanan masuk dalam rongga oral, makanan tersebut dicerna
dengan bantuan gigi, lidah dan kelenjar saliva. Setelah makanan tersebut lunak
maka akan ditelan menuju faring dan esofagus. Setelah melalui gerakan
peristaltis esofagus, makanan masuk ke lambung akan diproses lagi dengan
bantuan enzim pencernaan. Kemudian setelah melalui proses pencernaan di
lambung, makanan akan masuk ke usus halus dan diproses lagi dengan bantuan
enzin dan hormon, dan di absorbsi oleh usus halus. Makanan yang telah diproses
di usus halus akan diseleksi oleh pankreas, hati dan kandung empedu. Makanan
yang dibutuhkan oleh tubuh disalurkan ke seluruh sel sedangkan makanan yang
tidak dibutuhkan akan masuk ke usus besar kemudian dikeluarkan melalui anus.
E. Hormon-hormon
yang terkait dengan kebutuhan nutrisi makro mikro nutrien :
1.
Gastrin :
Gastirn diproduksi di dinding lambung.
Distimulus untuk produksi makanan dalam lambung. Pengaruh hormon ini dalam
mengatur pencernaan sebagai perangsang sekresi terus-menerus getah lambung.
Peregangan serta adanya jenis makanan
tertentu dalam lambung menimbulkan dikeluarkannya hormon gastrin dari bagian
mukosa antrum. Hormon ini mempunyai efek yang kuat menyebabkan sekresi getah
lambung yang sangat asam oleh bagian fundus lambung. Akan tetapi, gastrin juga
mempunyai efek perangsangan yang kuat pada fungsi motorik lambung. Yang paling
penting, gastrin meningkatkan aktivitas pompa pilorus sedangkan pada saat yang
sama melepaskan pilorus itu sendiri. Jadi, gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah
pengosongan lambung. Gastrin mempunyai efek konstriktor pada ujung bawah
esofagus untuk mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus selama
peningkatan aktivitas lambung
2.
Enterogastron (sekretin)
Sekretin distimulus untuk produksi bubur
makanan (chime) asam dalam duodenum. Pengaruh hormon ini dalam proses
pencernaan yaitu merangsang pankreas untuk mengeluarkan bikarbonat, yang
menetralkan bubur makanan (chime) asam dalam duodenum.
Sekretin merangsang sekresi usus serta
pengeluaran bikarbonat oleh pankreas, untuk menetralkan asam. Hal ini penting
karena enzim-enzim yang diperlukan untuk pencernaan di usus halus tidak dapat
bekerja dalam lingkungan asam.
3.
Cholecystokinin (CCK)
Cholecystokinin (CCK) diproduksi di
dinding duodenum. Distimulus untuk produksi asam amino atau asam lemak dalam
chime. Pengaruhnya untuk merangsang pancreas mengeluarkan enzim pancreas ke
dalam usus halus, merangsang kantung empedu untuk berkontraksi, yang
mengeluarkan empedu ke dalam usus halus.
Cholecystokinin (CCK) dilepaskan dari
usus halus terutama sebagai respons terhadap lemak. CCK menyebabkan sekresi
usus, kontraksi kandung empedu, dan pengeluaran empedu. Empedu penting untuk
pencernaan lemak.
Duodenum menerima enzim pankreatik dari
pankreas dan empedu dari hati. Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum
melalui lubang yang disebut sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting dari
proses pencernaan dan penyerapan.
4.
Enterogastron lain
Tempat produksi dinding duodenum.
Distimulus untuk produksi chime dalam duodenum. Pengaruhnya menghambat
peristalsis (memperlambat masuknya makanan dalam usus halus).
F.
Makronutrien dan Mikronutrien
1.
Makronutrien
Karbohidrat
adalah kelompok nutrien yang penting dalam susunan makanan dan Merupakan zat
utama penunjang tubuh dlm penyediaan energi yg berbentuk glukosa. Dalam sel
glukosa di rubah menjadi energi dengan proses oksidasi yg menghaslkan ATP,
kalori & zat buangan (air & CO2). Penyimpanan glukosa dlm bentuk
glikogen --- di hati dan otot. Glikogen sewaktu2 di rubah menjadi glukosa kembali
bila tubuh memerlukan. Glikogen akan mensuplai keb.energi bila glukosasdh tidak
memungkinkan lagi & dapat berjalan selama 12 jam. Bila glikogen &
glukosa habis --- tubuh akan memecah protein & lemak sebagai bahan energi. Jumlah
karbohidrat yang dibutuhkan tbh : 60% energ keseluruhan. Kebutuhan karbohidrat
u/ org dws dgn aktivits sedang 5,5 gr/KgBB/hari.(1 gr karb.membrkn energi 4
kalori)
G. Metabolisme
Karbohidrat, lemak, dan protein :
1. METABOLISME KARBOHIDRAT (Carbohydrate
Metabolisme)
·
Pencernakan
: proses pemecahan makanan dari bentuk komplek menjadi bentuk sederhana
·
Karbohidrat:
dari polisakarida dirubah menjadi monosakarida (galaktose, fruktose, glukose)
·
Glukose
merupakan monosakarida terbanyak dalam sirkulasi (70 – 110 mg/ml)
Galaktose dan fruktose dikonversi oleh hati dengan enzim yang sesuai
menjadi glukose , kemudian masuk sirkulasi
a.
Fase
Metabolisme Karbohidrat
GLIKOLISIS
·
Proses
perubahan glukose menjadi asam piruvat atau asetil coenzim-A
·
Glikolisis
terjadi di sitoplasma
·
Glukose
tidak dapat langsung diffusi ke sel
·
Glukose
harus berikatan dulu dengan carrier: G + C → GC → GC dapat berdiffusi kedalam
sel
·
Didalam
sel GC → G + C
2. METABOLISME PROTEIN
PROTEIN TUBUH
·
¾ zat
padat tubuh terdiri dari protein (otot, enzim, protein plasma, antibodi,
hormon)
·
Protein
merupakan rangkaian asam amino dengan ikatan peptide
·
Banyak
protein terdiri ikatan komplek dengan fibril → protein fibrosa
·
Macam
protein fibrosa: kolagen (tendon, kartilago, tulang); elastin (arteri); keratin
(rambut, kuku); dan aktin-miosin
MACAM PROTEIN
·
Peptide:
2 – 10 asam amino
·
Polipeptide:
10 – 100 asam amino
·
Protein:
> 100 asam amino
·
Antara asam
amino saling berikatan dengan ikatan peptide
·
Glikoprotein:
gabungan glukose dengan protein
·
Lipoprotein:
gabungan lipid dan protein
TRANSPORT PROTEIN
·
Protein
diabsorpsi di usus halus dalam bentuk asam amino → masuk darah
·
Dalam
darah asam amino disebar keseluruh sel untuk disimpan
·
Didalam
sel asam amino disimpan dalam bentuk protein (dengan menggunakan enzim)
·
Hati
merupakan jaringan utama untuk menyimpan dan mengolah protein
PENGGUNAAN PROTEIN UNTUK ENERGI
·
Jika
jumlah protein terus meningkat → protein sel dipecah jadi asam amino untuk
dijadikan energi atau disimpan dalam bentuk lemak
·
Pemecahan
protein jadi asam amino terjadi di hati dengan proses: deaminasi atau
transaminasi
·
Deaminasi:
proses pembuangan gugus amino dari asam amino
·
Transaminasi:
proses perubahan asam amino menjadi asam keton
3. METABOLISME LEMAK (LIPID/ FAT METABOLISM)
MACAM LEMAK
·
Lemak
biologis yang terpenting: lemak netral (trigliserida), fosfolipid, steroid
·
Asam
palmitat: CH3(CH2)14-COOH
·
Asam
stearat: CH3(CH2)16-COOH
·
Asam
oleat: CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH
·
Trigliserida:
ester gliserol + 3 asam lemak
·
Fosfolipid:
ester gliserol + 2 asam lemak + fosfat
·
Steroid:
kolesterol dan turunanya (hormon steroid, asam lemak dan vitamin)
ABSORPSI LEMAK
·
Lemak
diet diserap dalam bentuk: kilomikron → diabsorpsi usus halus masuk ke limfe
(ductus torasikus) → masuk darah
·
Kilomikron
dalam plasma disimpan dalam jaringan lemak (adiposa) dan hati
·
Proses penyimpananya: kilomikron dipecah oleh enzim lipoprotein lipase
(dalam membran sel) → asam lemak dan gliserol
·
Didalam sel
asam lemak disintesis kembali jadi trigliserida (simpanan lemak)
H.
Metabolisme Purin,
Pirimidin, dan Porfirin
1. METABOLISME PURIN DAN PIRIMIDIN
a.
ASAM
NUKLEAT
·
Asam
nukleat atau asam inti, dikatakan demikian karena asam tersebut pertama
kali diketemukan didalam inti sel
·
Didalam
inti sel asam nukleat ada dalam bentuk: DNA dan RNA
·
DNA
(Deoksiribo Nukleic Acid) merupakan bahan genetik yang disebut Gen
·
RNA (Ribo
Nukleic Acid) merupakan bahan cetakan (template) informasi genetic
b.
NUKLEOPROTEIN
·
Nukleoprotein → asam nukleat +
protein
·
Asam nukleat → gabungan
nukleotida
·
Nukleotida
→ nukleosida + asam fosfat
·
Nukleosida → basa purin/pirimidin
+ pentosa
·
Hidrolisis
nukleoprotein → protein, asam fosfat, pentosa, basa purin atau basa pirimidin
MACAM ASAM NUKLEAT :
1.
DNA
(deoksiribonucleic acid)
2.
RNA
(ribonucleic acid)
PURIN DAN PIRIMIDIN
·
Inti
Purin dan Pirimidin adalah inti dari senyawa komponen molekul nukleotida asam
nukleat RNA dan DNA
·
Derivat
Purin berupa senyawa: Adenin dan Guanin
·
Derivat
Pirimidin berupa senyawa: sitosin, urasil dan timin
·
Basa
Purin (adenin, guanin)
·
Basa
Pirimidin (sitosin, urasil, timin)
·
Nukleosida
diberi nama sesuai nama basa pembentuknya: adenin nukleisida (adenosin), guanin
nukleisida (guanosin), urasil nukleosida (uridin), timin nukleisida (timidin),
sitosin nukleisida (sitidin)
PURIN DAN PIRIMIDIN
·
Purin dan
pirimidin merupakan komponen utama DNA, RNA, koenzim, (NAD, NADP, ATP, UDPG)
·
Contoh
Purin: (adenin, guanin, hipoxantin, xantin) → dimetabolisme jadi asam urat
·
Contoh
Pirimidin: (sitosin, urasil, timin) → dimetabolisme jadi CO2 dan NH3
2.
METABOLISME PORFIRIN
Porfirin adalah senyawa siklik yang dibentuk
dari gabungan empat cincin pirol melalui jembatan metenil (-CH=). Sifat khas
porfirin adalah pembentukan kompleks dengan ion-ion logam (metaloporfirin) yang
terikat pada atom nitrogen cincin-cincin pirol. Sebagai contoh misalnya heme
yang merupakan porfirin besi dan klorofil, merupakan porfirin magnesium.
Di alam, metabolisme porfirin terkonjugasi
dengan protein membentuk senyawa-senyawa penting dalam proses biologi, antara
lain: (1) Hemoglobin, merupakan porfirin besi yang terikat pada protein globin
dan mempunyai fungsi penting pada mekanisme transport oksigen dalam darah;(2)
Mioglobin, merupakan
pigmen pernafasan yang terdapat dalam sel-sel otot; (3) Sitokrom, berperan
sebagai pemindah elektron (electron transfer) pada proses oksidasi reduksi.
a.
Kimia
Porfirin :
Porfirin mengandung nitrogen tersier pada 2
cincin pirolen sehingga bersifat basa lemah dan adanya gugus karboksil pada
rantai sampingnya menyebabkan juga bersifat asam. Titik isoelektriknya berkisar
pada pH 3-4, sehingga pada pH trersebut porfirin mudah diendapkan dalam larutan
air.
Berbagai jenis porfirinogen tidak berwarna,
sedangkan berbagai jenis porfirin berwarna. Porfirin dan derivat-derivatnya
mempunyai spektrum absorbsi yang khas pada daerah yang dapat dilihat dan pada
daerah ultraviolet. Larutan porfirin dalam HCl 5% mempunyai pita absorbsi pada
400 nm yang disebut pita Soret.
Porfirin dalam asam mineral kuat atau pelarut
organik dan kemudian disianari sinar ultraviolet akan memancarkan fluoresensi
merah yang kuat. Sifat fluoresensi ini sangat khas sehingga sering dipakai
untuk mendeteksi porfirin bebas dengan jumlah yang sedikit. Sifat absorbsi dan
fluoresensi yang khas dari porfirin disebabkan oleh ikatan rangkap yang
menyatukan cincin pirol. Ikatan rangkap ini tidak ada pada porfirinogen
sehingga tidak menunjukkan sifat-sifat tersebut. Jika porfirinogen mengalami
oksidasi dengan melepaskan 6 atom H akan terbentuk porfirin yang mempunyai
ikatan rangkap.
I. Pembentukan
Urea :
Ginjal sangat berperan dalam menjaga homeostasis milleu internal.
Fungsi ginjal meliputi fungsi regulator (cairan, elektrolit, pH), fungsi
ekskresi (produk akhir metabolisme tubuh, senyawa asing), fungsi sekresi
(erythropoietin, renin), dan fungsi metabolisme (vitamin D). Proses pembentukan
urin melewati tahap, yaitu ultrafiltrasi glomerular, reabsorpsi tubular, dan
sekresi tubular.
Ultrafiltrasi
Glomerular : Darah
yang mengalir melewati glomerulus akan mengalami ultrafiltrasi melalui membran
glomerulus yang terdiri dari dinding kapiler glomerulus (selapis endotel),
membran basal (kolagen dan glikoprotein), dan lapisan dalam kapsul Bowman
(podosit). Gaya pendorong pada proses ini merupakan resultan gaya dari tekanan
yang mendorong ultrafiltrasi (tekanan hidrostatik darah kapiler glomerulus) dan
tekanan yang melawan ultrafiltrasi (tekanan osmotik koloid dan tekanan
hidrostatik kapsul Bowman). Laju filtrasi glomerulus berbanding lurus dengan
resultan tekanan filtrasi dan koefisien filtrasi. Koefisien filtrasi meliputi
luas area filtrasi dan permeabilitas membran glomerulus. Hasil ultrafiltrasi
ini berupa plasma tanpa protein (urin primer) dan ditampung di ruang Bowman
yang selanjutnya akan diteruskan ke tubulus-tubulus ginjal.
Reabsorpsi Tubular : Reabsorpsi tubulus merupakan proses menyerap
zat-zat yang diperlukan tubuh dari lumen tubulus ke kapiler peritubulus. Proses
ini merupakan transport transepitel karena sel-sel tubulus yang berdekatan
dihubungkan oleh tight junction. Proses reabsorpsi ini dapat bersifat
pasif maupun aktif.
· Reabsorpsi natrium terjadi secara aktif
disepanjang tubulus kecuali pada ansa Henle pars descendens. Pada tubulus
proksimal, reabsorpsi natrium juga berperan dalam reabsorpsi glukosa, asam
amino, H2O, Cl-, dan urea. Pada ansa Henle pars ascsendens natrium direabsorpsi
dalam bentuk garam NaCl. Pada tubulus distal dan pengumpul, reabsorpsi natrium
dikontrol secara hormonal.
· Glukosa dan asam amino direabsorpsi melalui
transport aktif sekunder di tubulus proksimal.
· Fosfat dan kalsium direabsorpsi secara aktif di
tubulus proksimal dan dikontrol secara hormonal.
· Ion Cl-, H2O, dan urea direabsorpsi secara
pasif mengikuti reabsorpsi natrium di tubulus proksimal.
J. Keadaan
Kenyang dan Puasa :
Proses terjadinya kenyang dan
Lapar :
Rasa lapar sebenarnya dipicu oleh
peningkatan hormon Ghrelin dalam darah yang diproduksi oleh sel-sel dilambung.
Puasa menyebabkan peningkatan produksi hormon Ghrelin ini di lambung. Ghrelin
dalam penelitian menunjukkan efek positip terhadap sekresi dan kerja insulin.
Ghrelin yang meningkat menyebabkan kerja insulin lebih bagus. Pada orang gemuk
Ghrelin dalam darah rendah dan disinyalir memperburuk sinyal insulin. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Ghrelin baik untuk membantu kerja insulin. Ini
salah satu alasan tambahan mengapa rasa lapar itu penting untuk kita rasakan.
Rasa lapar dan puasa akan cenderung meningkatkan produksi Ghrelin yang pada
akhirnya penting untuk kesehatan metabolisme.
Pusat saraf yang mengatur asupan makanan
·
Nukleus lateral hipotalamus,
berfungsi sebagai pusat makan
·
Nukleus ventromedial hipotalamus
berperan sebagai pusat kenyang
Faktor-faktor yang mengatur jumlah asupan makanan
Pengaturan jumlah asupan makanan
dapat dibagi menjadi :
·
Pengaturan jangka pendek
·
Pengisian saluran cerna menghambat perilaku makan
·
Faktor hormonal saluran cerna menghambat perilaku
Selain itu,adanya makanan dalam usus akan merangsang usus tersebut
mensekresikan peptide mirip glucagon, yang selanjutnya akan meningkatkan
sekresi insulin terkait glukosa dan sekresi dari pancreas, yang keduanya
cendrung untuk menekan nafsu makan.
·
Ghrelin, suatu hormone gastrointestinal meningkatkan perilaku makan
·
Reseptor
mulut mengukur jumlah asupan makanan
· Pengaturan jangka panjang
K. Tanda
dan Gejala Gangguan Nutrisi :
· Berat
badan dibawah ideal lebih dari 20%
· Melaporkan
intake makanan kurang dari kebutuhan tubuh yang dianjurkan.
· Konjungtiva
dan membran mukosa pucat
· Lemah
otot untuk menelan dan menguyah
· Luka
inflamasi pada rongga mulut
· Suara
usus hiperaktif
L. Proses
Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
:
1.
Pengkajian :
Pengkajian
merupakan dasar utama proses keperawatan, pengkajian data terhadap pasien harus
sistematis dan akurat. Dengan pengkajian dapat menentukan aktifitas untuk
memecahkan masalah klien dan digunakan sebagai sumber data dasar yaitu data fisiologis,
psikologis, sosiobudaya, perkembangan, dan spiritual.
Untuk
mengkaji status nutrisi pasien dipaparkan pendekatan ABCD, yaitu:
a.
Anthropolometric measurement
b.
Biochemical data
c.
Clinical sign of nutrional status :
Klien dengan
maslah nutrisi akan memperhatikan tanda-tanda abnormal tersebut bukan saja pada
organ-organ fisiknya tetapi juga fisiologisnya. Tanda-tanda klinik untuk
mengetahui status individu:
|
Organ /
sistem tubuh
|
Tanda
normal
|
Tanda
abnormal
|
|
Rambut
|
Licin,
berkilau, baik kering atau berminyak
|
Kusam,
rontok, tumbuh tidak sempurna
|
|
Kulit
|
Halus,
sedikit basah, tugor baik
|
Kering,
pecah-pecah, bersisik
|
|
Mata
|
Bersih an
bersinar, konjuntiva tidak pucat
|
Tidak
bercahaya, konjungtiva pucat
|
|
Cardiovaskuler
|
HR, tensi,
nadi, irama jantung teratur
|
HR, tensi
tidak normal, irama jantung tidak teratur
|
|
Otot-otot
|
Kuat dan
berkembang biak
|
Lembek dan
berkembang tidak baik
|
|
Gastrointestinal
|
Nafsu
makan baik, BAB/BAK teratur dan normal
|
Nafsu
makan kurang, diare, sulit menelan, konstipasi
|
|
Aktifitas
|
Bersemangat,
giat dan tidur normal
|
Energi
kurang, lemah, susah tidur
|
|
Neurologi
|
Refleks
normal, emosi dan perhatian baik
|
Refleks
kurang, iritable, perhatian kurang, dan emosi labil
|
2.
Diagnosis Keperawatan : Diagnosis
keperawatan yang dapat terjadi pada masalah kebutuhan nutrisi adalah:
a.
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Kemungkinan
ditemukan data:
·
Meningkatkan kebutuhan kalori dan
kesulitan mencerna secara berkelanjutan akibat penyakit infeksi, luka bakar,
ataupun kanker
·
Disfagia akibat kelumpuhan serebral
·
Penurunan absorpsi nutrisi akibat
toleransi laktosa
·
Penurunan nafsu makan
·
Sekresi berlebihan, baik melalui
latihan fisik, muntah, diare, ataupun pengeluaran lainnya
·
Ketidakcukupan absorpsi akibat efek
samping obat atau lainnya
·
Kesulitan mengunyah
b.
Perubahan nutrisi lebih dari
kebutuhan nutrisi : klien dengan risiko atau actual mengkonsumsi makanan
melebihi dari kebutuhan metabolism tubuh
Kemungkinan
data yang ditemukan:
·
Perubahan pola kenyang akibat efek
obat atau radiasi
·
Penurunan fungsi pengecap atau
penciuman
·
Kurangnya pengetahuan tentang
nutrisi
·
Penurunan kebutuhan metabolisme
·
Kelebihan asupan
·
Perubahan gaya hidup
3.
Perencanaan
Tujuan :
a.
Meningkatkan nafsu makan apabila
nutrisi kurang
b.
Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi
c.
Mempertahankan nutrisi melalui oral
atau parental
d.
Rencana tindakan :
·
Monitor perubahan factor yang
menyebabkan terjadinya kekurangan kebutuhan nutrisi atau kelebihannya dan
status kebutuhan nutrisi
·
Kurangi factor yang mempengaruhi
perubahan nutrisi
·
Ajarkan untuk merencanakan makanan
·
Kaji tanda vital dan bising usus
·
Monitor glukosa, elektrolit,
albumin, dan hemoglobin
·
Berikan pendidikan tentang cara
diet, kebutuhan kalori, atau tindakan lainnya.
Tindakan
pada gangguan kelebihan nutrisi secara umum dapat dilakukan dengan cara:
·
Hindari makanan yang mengandunf
lemak
·
Berikan motivasi untuk
menurunkaanberat badan
·
Lakukan program olah raga
4.
Implementasi
a.
Pemberian Nutrisi Melalui Oral : Pemberian
nutrisi melaui oral merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien
yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara sendiri dengan cara membantu
memberikan makan.nutrisi melalui oral (mulut), bertujuan memenuhi
kebutuhan nutrisi pasien dan membangkitkan selera makan pada klien.
b.
Pemberian Nutrisi Melalui Pipa
Penduga/Lambung : Pemberian nutrisi melalui pipa penduga/lambung merupakan
tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu menelan dengan
cara memberi makan melalui pipa lambung atau pipa penduga. Tujuannya untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
c.
Pemberian Nutrisi Melalui Parenteral
: Pemberian nutrisi melalui parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa
cairan infuse yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui darah vena, baik secara
sentral (untuk nutrisi parenteral total) ataupun vena perifer (untuk nutrisi
parental parsial). Pemberian nutrisi melalui parental dilakukan pada klien yang
tidak bias makan melalui oral atau pipa nasograstik dengan tujuan untuk
menunjang nutrisi sentral yang hanya memenuhi sebagian kebutuhan harian.
5.
Evaluasi
a.
Meningkatkan nafsu makan ditunjukkan
dengan adanya kemampuan dalam makan serta adanya perubahan nafsu makan apabila
terjadi kurang dari kebutuhan.
b.
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi
ditunjukkan dengan tidak adanya tanda kekurangan atau kelebihan berat badan
c.
Mempertahankan nutrisi melalui oral
atau parenteral ditunjukkan dengan adanya proses pencernaan makanan yang
adekuat